KERAJAAN KUTAI


1.Sumber-Sumber
Bukti-bukti yang ada menunjukan, bahwa kerajaan tertua di Indonesia terletak di Kalimantan. Akan tetapi sedikit sekali diperhatikan oleh para penulis tambo di daratan Cina. Berita tertua Cina yang berkaitan dengan salah satu daerah dikalimantan berasal dari zaman dinasti T’ang padahal berita-berita Cina yang berhubungan dengan Jawa sudah ada sejak abad V M dan Sumatera pada awal abad VI M pada saat pemerintahan dinasti Liang. Ternyata kurangnya perhatian terhadap sejarah daerah kalimantan itu masih berlanjut di masa-masa sesudahnya, sehingga di dalam sejarah Asia Tenggara, daerah ini masih tetap merupakan suatu daerah yang terlupakan.
Di daerah yang terlupakan ini untuk pertama kalinya di temukan kehidupan yang bercorak keindiaan dengan ditemukannya arca Buddha dari perunggu di Sempaga Sulawesi Selatan, arca ini berasal dari mazhab seni Amarawati di buat sisana dan di bawa ke Indonesia, mungkin sebagai barang dagangan ataupun barang persembahan untuk sesuatu vihara. Disamping arca-arca Buddha, juga ditemukan arca-arca yang memperlihatkan sifat kehinduan, mukhalinga di Sepauk, dan arca Ganesa yang ditemukan di Serawak
Disamping benda-benda di atas di temukan juga yupa, sampai saat ini sudah ada 7 buah yupa masih ada kemungkinan beberapa yupa yang belum di temukan. Yupa itu dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa berasal dari awal abad V M yang dikeluarkan atas titah seorang penguasa daerah pada masa itu, yang bernama Mulawarman yang di pastikan ia adalah Indonesia asli, karena kakeknya menggunakan nama asli Indonesia Kudungga
Yupa yang menyebutkan silsilah Mulawarman, berbunyi : sang Maharaja Kudungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang masyur, sang Asvawarman namanya, yang seperti sang Ansuman (dewa matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Asvawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan Kenduri (selamatan yang dinamakan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.
Terdapat hal menarik dalam penyebutan nama antara Kudungga dengan Devavarman. Devavarman dapat diartikan sebagai penyebutan nama atas Kudungga. Nama Kudungga sendiri jelas bukan merupakan nama yang berbau Hindu. Nama bugis yang mirip dengan Kudungga yaitu Kadungga. Devavarman merupakan nama yang berbau Hindu, pemberian dari brahmana untuk menunjukkan bahwa Mulawarman sebagia keturunan seorang Hindu. Namun, Kudungga sendiri tidak dianggap sebagai pendiri keluarga raja. Yang dianggap sebagai pendiri keluarga raja adalah Asvawarman. Karena nama Asvawarman dan Mulawarman, dihadapkan nama-nama yang berbau Hindu.
Prasasti yang lain berbunyi : dengarkanlah oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka, dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebikan budi Sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah sedekah kehidupan atau semata-mata pohon Kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubungan dengan semua kebaikan itulah maka tugu ini didirikan oleh para brahmana (buat peringatan) Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua (perkara) yang telah disediakan oleh Sang Raja Mulawarman, yakni segunung minyak (kental), dengan lampu serta malai bunga.
Prasasti lainnya berbunyi: Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara. Buat (peringatan) akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibikin oleh para Brahmana yang datang si tempat itu.
Dalam Prasati itu juga disebutkan bahwa Mulavarman mengundang para brahmana yang berasal dari India untuk datang ke negaranya. Hal ini menunjukkan bahwa Kutai bukan merupakan kerajaan yang terisolasi atau tidak melakukan hubungan dengan negara lain. Brahmana sendiri akan tinggal di pura, pura sebagai perwujudan penghormatan Mulawarman atas leluhurnya.
Kerajaan Kutai sebagai sebuah kerajaan yang dapat mentransformasikan kepemimpinan yang bersifat tradisi menuju kepemimpinan yang mengadopsi kebudayaan India, serta telah mampu membentuk sebuah kerajaan menurut sistem keluarga atau dinasti.
2.Kehidupan Masyarakat dan Agama
Mengingat bahwa kehidupan yang bersifat Hindu sangat terikat kepada peraturan yagn disebut Kasta, maka timbul pertanyaan apakah seorang yang terlahir bukan sebagai seorang Hindu dapat memperoleh perlakuan sebagai orang hindu dan masuk kedalam salah satu kasta? Dalam kepercayaan Hindu orang yang sudah dikeluarkan dari kastanya bisa masuk kembali melalui upaca yang disebut vratyastoma. Upacara vratyastoma inilah yang dijadikan oleh orang-orang Indonesia ke dalam suatu kasta, dilakukan dengan memperhatikan kedudukan asal orang yang bersangkutan. Dapat dipastikan yang memimpin upacara vratyastoma adalah Brahmana agama Hindu yang langsung datang dari India, tetapi kemungkina ketika upacara itu dilakukan terhadap Mulawarman sudah dipimpin oleh pendeta Indonesia. Dalam hal ini, para Brahmana yang berulangkali disebutkan pada prasasti-prasastinya, dengan sendirinya tentulah sebagian terdiri dari kaum Brahmana India, dan sebagian lainnya kaum Brahmana Indonesia asli.
Semua prasasti yang telah ditemukan sampai saat ini, membicarakan upacara selamatan didalam memperingati salah satu kebaikan atau pekerjaan yang dilakukan oleh Mulawarman. Nama Ansuman yaitu dewa matahari dalam agama Hindu, setidaknya Mulawarman adalah penganut agama Hindu, dalam prasasti lainnya disebutkan upacara sedekah yang dilakukan Mulawarman dilakukan disebidang tanah suci.
Bidang tanah suci yang disebut pada prasasti itu bernama Waprakeswara, yang kemudian dikenal kembali pulau Jawa sebagai Baprakeswara. Di jawa maksudnya adalah suatu tempat suci yang selalu dihubungkan dengan tiga dewa besar yakni Brahma – Wisnu – Siwa. Dengan kata lain Baprakeswara atau candi tempat candi Brahma – Wisnu – Siwa. Dengan keterangan pendek ini kita mendapat keyakinan, bahwa agama yang di anut Sang Raja Mulawarman ialah agama Siwa dan yang pastinya yang disebut didalam batutulis Sang Mulawarman itu pastilah Brahmana yang beragama Siwa.



KERAJAAN TARUMANEGARA
1.Sumber-Sumber
Di dalam bukunya Geographike Hyphegesis, ahli ilmu bumi Yunani bernama Ptolemaeus, ketika menyebutkan daerah-daerah di Timur Jauh, antara lain menyebutkan sebuah kota bernama Argyre, yang terletak di ujung barat Pulau Labadiou. Dalam nama sanskerta Yawadwipa yang berarti pulau jelai dan besar kemungkinan adalah pulau Jawa. Argyre yang berarti perak, dengan demikain  juga di duga terjemehan dari Merak, yang memang terletak di sebelah barat pulau Jawa.
Ada berita Cina yang menyebutkan daerah yang belum dapat ditentukan ketepatan lokasinya, berasal dari tahun 250 M, dikatakan ada sebuah daerah bernama Tu-po yang sangat dekat lafalnya dengan Cho-po yang dalam bahasa sanskerta berbunyi Jawaka. Dalam berita yang lebih akhir disebut Cho-ye yang oleh Sivain Levi dianggap sama dengan Jawa, tetapi oleh G. Ferrand disesuaikan dengan sanskerta Jaya dan karena di hubungkan dengan kerajaan Sriwijaya. Dalam naskah India Yawadwipa dikenal dalam kisah Ramayana, Yawadwipa sendiri dikatakan bahwa di sana terdapat tujuh buah kerajaan yang menghasilkan perhiasan, pulau-pulau emas dan perak, negara kaya akan tambang emas.  
Berita-berita dari luar yang disebutkan belum ada satu pun yang mengacu pada kerajaan Tarumanegara. Sampai saat ini yang sudah diketahui hanyalah tujuh buah prasasti batu, berita Cina yang masing-masing berasal dari Fa-hsien tahun 414 dinasti Soui dan Tang, dan arca-arca rajarsi Wisnu Cibuaya I dan Wisnu Cibuaya II.
Prasasti Ciaruton (Ciampea, Bogor) terletak di pinggir sungai Ciaruton, dekat muaranya dengan Cisadane. Yang menarik dari prasasti ini ialah lukisan labah-labah dan tapak kaki yang dipahatkan di atas hurufnya, prasasti ini berbunyi : ini (bekas) dua kaki, seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnavarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia.
Prasasti Pasir Koleangkok didapatkan di bukit yang bernama demikian, termasuk daerah perkebunan jambu didalam prasasti ini dijumpai nama negara, yang untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Brandes, dan menurut bacaannya berbunyi tarumayam, sementara itu ada yang mencoba menghubungkan kata utsadana yang terdapat pada baris prasasti tersebut, dengan nama sebuah sungai besar yang letaknya tidak demikian jauh dari tempat itu yaitu Cisadane. Bunyi terjemahan prasasti tersebut: Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyur sri Purnavarmman yang sesekali waktu di Taruma dan yang baju Zirahnya yang terkenal (varman) tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya, yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.
Prasasti Kebonkopi terletak di kampung muara hilir Cibugnbulan, dan yang menarik dari prasasti ini ialah adanya dua tapak kaki gajah Airawata. Prasasti ini juga ditulis dalam bentuk puisi anustubh dengan huruf lebih kecil bentuknya jika dibandingkan dengan prasasti-prasasti Purnawarman yang lain. Bunyinya sebagai berikut : Di sini nampak sepasang telapak kaki .. . yang seperti Airwata, gajah taruma yang agung dalam ... dan kejayaan
Prasasti Tugu yang didapatkan di Tugu, Jakarta merupakan prasasti terpanjang dari semua peninggalan Purnawarman. Aba beberapa hal yang menarik dari prasasti ini dibanding dengan lainnya. Pertama, di dalamnya disebutkan dua buah sungai yang terkenal di Panjab, yaitu sungai Candrabhaga dan Gomati. Kedua, walaupun tidak lengkap prasasti ini satu-satunya yang menyebutkan anasir penanggalan. Ketiga, prasasti ini menyebutkan upacara yang dilakukan oleh Brahmana disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan. Keempat, prasasti ini menyebutkan dua buah nama lain disamping Purnawarman, sehingga setidak-tidaknya dapat digunakan untuk menentukan siapa sebenarnya Purnawarman.
Nama Candrabhaga yang disebutkan dalam prasasti Tugu, Poerbacharaka beranggapan bahwa tempat itu tentulah sungai India yang diberikan kepada sebatang sungai di pulau Jawa, melalui Etimologi kesimpulannya wilayah itu sekarang adalah Bekasi yang di duga sebagai pusat kerajaan Tarumanegara.
Prasasti Pasir Awi dan Muara Cianten, tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca, seperti halnya dengan yang terdapat pada prasasti Ciaruton. Prasasti Cidanghiang atau Lebak, di dapatkan di kampung Lebak, di pinggir sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi dua baris huruf yang merupakan satu Sloka dalam metrum anustubh. Hurufnya Pallawa, yang dalam beberapa hal mirip dengan prasasti Tugu.
Arca Rajasi berasal dari Abad XI M, menggambarkan rajasi sebagaimana disebutkan dalam prasasti tugu dan memperlihatkan sifat-sifat Wisnu-Surya. Arca Wisnu Cabuya I berasal dari abad VII M, arca ini diduga mempunyai persamaan dengan langgam seni Pallawa di India Selatan dari abad VII – VIII M. Arca Wisnu Cabuya II banyak persamaan arca ini dengan seni Pala abad VII – VIII M terutama jenis batu, bentuk badan dan makuta.
Dalam catatan perjalanan I-tsing (abad VII M) menyebutkan beberapa buah negara yang terletak di sebelah selatan, diantaranya Mo-ho-sin, yang di duga terletak di Pulau Jawa sebelah barat yang kemungkinan adalah Jawa Barat. Ada penyebutan nama Tolomo yang berarti lafal Cinanya Taruma.
Berlainan dengan berita-berita di atas berita Fa-hsien menggambarkan hubungan diplomatik yang menyelidiki kehidupan keagamaan jaman Tarumanegara. Fa-hsien mengatakan di Ye-poti sedikit sekali dijumpai orang yang beragama Budha, tetapi banyak dijumpai orang-orang Brahmana dan mereka yang agamanya buruk.


2.Keadaan Masyarakat
Berdasarkan bukti-bukti yang ada sampai saat ini, dapat diduga bagaimana kira-kira mata pencaharian penduduk zaman Tarumanegara, bahwa pada masa itu perburuan, pertambangan, perikanan, dan perniagaan termasuk mata pencaharian penduduk disamping pertanian, pelayaran dan peternakan.
Dalam segi budaya, setidaknya ada dua golongan yaitu golongan yang berbudaya Hindu terdapat di lingkunga kraton dan golongan yang berbudaya asli meliputi sebagian besar penduduk Tarumanegara.
Dalam segi agama, dari berita Fa-hsien bahwa pada awal abad V M, di Taruma terdapat tiga macam agama, yaitu agama Budha, Hindu dan agama yang “kotor”. Agama Hindu paling banyak, karena dapat diperkuat oleh bukkti-bukti yang di temukan dari prasasti maupun arca
Apa yang kita ketahui tentang agama Budha di Tarumanegara, terbatas pada berita Fa-hsien yang mengatakan bahwa pada waktu itu disana sedikit sekali dijumpai orang-orang yang beragama Budha. Tentang agama kotor yang di ungkapkan Fa-hsien agama kotor itu adalah agama Siwa Pasupata, berdasarkan berita Seorang Cina bernama Huen-tsang (abad VII M) adanya kaum Brahmana dan pemeluk agama palsu. Karena yang di maksudkan Huen-tsang adalah Siwa Pasupata, maka pendapat pertama bahwa agama inilah yang terbesar di Tarumanegara
Sementara itu ada pula pendapat yang menghubungkan agama kotor itu dengan agama orang Parsi (Majusi) yang mengenal upacara penanaman mayat dengan menempatkannya di dalam hutan begitu saja. Dengan di tunjang pendapatnya bahwa Yepoti seperti yang di beritakan Fa-hsien itu sebenarnya tidak terletak di Jawa, tetapi di Kamboja.
Agama kotor itu sudah ada lama sekali sebelum masuknya pengaruh agama Hindu dan Budha seperti yang dikenal oleh Fa-hsien, maka tidak mustahil jika disimpulkan bahwa penamaan agama kotor itu pada dasarnya di sebabkan karena ketidaktahuan Fa-hsien akan sistim dan kehidupan keagamaan asli Indonesia pada masa itu, yang dapat dipastikan masih dianut oleh bagian terbesar penduduk Tarumanegara.


      


1 komentar:

  1. Tulisannya berguna banget.. Tapi sayang nggak bisa di copy ya? Terima kasih. :)

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan kalau mau bertanya, saran, atau apapun mohon lebih baik sertakan nama dan alamat email, sebaiknya jangan memakai Anonymous Users

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 
;